About Indonesia's Education System

Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk ke dalam negara terbesar dan memiliki populasi terbanyak dalam urutan ke-4 di dunia. Indonesia hidup dengan berbagai budaya yang lahir dari daerah yang beragam tentunya. Sumber Daya Alam yang dimiliki Indonesia pun juga sangat kaya. Namun, tak bisa dipungkiri, untuk kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia masih masuk dalam peringkat paling rendah, bahkan dalam sesama anggota ASEAN. Tentunya hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya sistem pendidikan di Indonesia belum berfungsi secara maksimal. Pendidikan di Indonesia harus segera diperbaiki agar mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan di bidangnya agar bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa lain. Untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia, diperlukan sistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan zaman. Indonesia harus menggunakan sistem pendidikan dan pola kebijakan yang tepat karena masa depan suatu bangsa sangat tergantung pada mutu sumber daya manusia. 


SISTEM

Saat ini, Indonesia menganut sistem pendidikan yang menuntut peserta didik untuk menguasai berbagai macam pengetahuan mulai dari ilmu agama sampai dengan ilmu fisika. Semua materi harus di kupas tuntas per-mata pelajarannya dan sangat berorientasi pada nilai. Jika dihitung, ada total kurang lebih 15 mata pelajaran di sekolah yang harus dikuasai oleh 1 orang anak. Tentunya secara tidak langsung, sistem ini menuntut generasi muda Indonesia agar menjadi peserta didik yang sama antar satu sama lain. Hal itulah yang memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan Indonesia karena sekolah dianggap menjadi tempat mengerikan bagi sebagian besar peserta didik yang membuat anak-anak Indonesia tidak enjoy dalam belajar. Masing-masing anak dituntut untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan dan harus dituntut untuk sama merupakan hal yang sulit untuk dipahami. Selain itu, kekhawatiran lain juga muncul karena sistem ini telah mengakar dari masa ke masa dan agaknya sulit untuk di ubah. Semua anak berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang bagus dengan segala cara karena dengan nilai yang bagus, peserta didik akan bangga dan merasa dihargai entah itu dengan cara jujur ataupun tidak. Sehingga, banyak siswa yang lulus sekolah hanya dibekali dengan nilai-nilai dari mata pelajaran dan ijazah saja dan tidak menjamin bagi mereka untuk dapat bersaing dan sukses di bidangnya dalam meniti kehidupan yang lebih baik dari segi materi maupun kemuliaan dalam hidup.


MURID BUKANLAH ROBOT

Sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan pendidikan yang ideal tentunya akan sangat berpengaruh pada potensi peserta didik terlebih pendidikan berpusat dan dikendalikan oleh pemerintah, tentu akan mengalami suatu ketimpangan karena pemerintah tidak pernah tahu apa yang dibutuhkan oleh peserta didik di setiap daerah di Indonesia yang pada dasarnya setiap orang memilki potensi yang berbeda-beda. Sistem pendidikan di Indonesia juga cenderung memaksa peserta didik untuk mengikuti apa diinginkan oleh sekolah bukan mengikuti apa yang diinginkan oleh peserta didik yang menyebabkan peserta didik kesulitan untuk menemukan jati dirinya karena kurangnya perhatian dan peran seorang pendidik untuk membimbing, memfasilitasi dan mengetahui setiap potensi dari peserta didiknya. Ketika sistem pendidikan hanya berorientasi pada nilai saja tentu ini akan menjadikan para siswa menjadi manusia robot, karena hasil dari sistem seperti ini akan menghilangkan potensi, kreativitas, dan sikap kritis seorang siswa. Sistem harus berjalan sesuai kebutuhan yang diinginkan oleh pendidik agar memperoleh pendidikan yang bagus. Dengan pendidikan yang bagus ini dapat mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang kuat, memiliki kesadaran diri, kreatif, cerdas, inovatif, berani dan tidak mengenal putus asa dalam proses pembelajaran. Kualitas pendidik juga harus sangat diperhatikan karena pendidik adalah eksekutor terbaik dalam dunia pendidikan. Di Indonesia, masih terlihat banyak pendidik selalu membedakan mana yang pintar dan mana yang bodoh dalam lingkup akademis, pendidikan yang seperti ini akan menjadi penghalang dalam mengembangkan mutu pendidikan. Selain itu, masih banyak juga pendidik di Indonesia yang bekerja hanya untuk materi saja sehingga tidak memperhatikan bagaimana cara untuk membimbing peserta didik dengan baik. Seharusnya keterbalikan ini jangan sampai terjadi pada dunia pendidikan karena itu merupakan salah satu faktor yang akan mengakibatkan pemerosotan kualitas pendidikan di suatu negara. Padahal menjadi pendidik merupakan tugas yang sangat mulia, itulah mengapa menjadi pendidik bukanlah hal yang mudah. 


KETAKUTAN

Saat ini, terlihat masih belum banyak siswa-siswi yang berani untuk bersuara tentang betapa besarnya pengaruh sistem pendidikan terhadap masa depan negara kita. Peserta didik tetap mengikuti hal yang telah berlaku agar dapat lulus dengan nilai yang bagus dan diterima di perguruan tinggi negeri favorit. Memiliki cita-cita untuk diterima di perguruan tinggi favorit adalah hal yang sangat bagus, namun tentunya hal itu juga harus diimbangi dengan ilmu yang berguna, kesadaran dan kualitas diri, bukan hanya masalah nilai saja. Itulah hal yang membuat rasa  kekhawatiran saya muncul lagi. Orang-orang pintar di Indonesia sangatlah banyak, namun yang memiliki kesadaran diri itulah sekiranya masih kalah banyak dari orang yang hanya sekadar pintar. Hal itu juga berdampak pada budaya yang kurang baik, contohnya banyak pendidik maupun peserta didik beranggapan bahwa siswa yang memiliki nilai tinggi di pelajaran matematika dan IPA merupakan murid yang cerdas sementara siswa yang kreatif dan inovatif di bidang seni, sosial, maupun sastra direndahkan. Padahal, seniman ternama Pablo Picasso telah menyebutkan bahwa setiap anak adalah seniman, sehingga pendidik harus mampu menemukan bakat dan minat pada setiap seniman tersebut. Dibandingkan dengan sistem pendidikan di Amerika, negara kita seolah-olah terlihat sangat rajin, pintar, dan padat. Bagaimana tidak, di AS hanya ada tujuh mata pelajaran pokok yang dipelajari dan dapat memilih subject favorit mereka untuk mengetahui dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Berbeda dengan Indonesia yang harus mempelajari kurang lebih 15 mata pelajaran di setiap tahunnya dan semua materi harus dikuasai. Logikanya, karena ilmu yang diajarkan di Indonesia lebih banyak dan beragam, harusnya SDM Indonesia bisa jauh lebih maju daripada Amerika. Namun pada kenyataannya kenapa tidak bisa begitu? Disitu letak permasalahan yang harus dipertanyakan dan dipecahkan. 


SOLUSI

Bukan rahasia umum bahwa implementasi pendidikan di Indonesia mengharuskan siswa untuk lebih menghafal, bukan problem solving sehingga terlalu kaku dengan adanya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Hal ini berdampak kepada matinya sikap kritis, rasa ingin tahu, penalaran, kreativitas, maupun inovasi dari setiap diri siswa. Output dari sistem pendidikan yang rigid adalah masyarakat mudah termakan berita hoax dan banyak terjadi logical fallacy dikalangan masyarakat. Tak bisa dipungkiri, pendidikan Indonesia juga mengajarkan ilmu agama selama 12 tahun terus menerus yang harusnya nilai-nilai agama ini sudah tertanam dalam diri setiap peserta didik. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit siswa siswi sering bersikap rasis dan merendahkan ras atau agama yang berbeda serta menganggap aliran mereka ialah yang paling benar. Pendidikan Agama, terutama PAI, sebaiknya tidak difokuskan pada hal - hal khilafiyah namun pada hal-hal yang filosofis, mengapa suatu aturan dalam agama bisa terbentuk dan apa tujuannya. Siswa juga harus diajarkan bagaimana hidup dalam masyarakat plural dengan mengedepankan nilai-nilai humanisme. Pendidikan logika dasar juga sangat penting untuk diberikan agar siswa dapat memahami alur logika yang benar dan apa saja kesalahan logika yang umum terjadi di masyarakat, bagaimana cara memecahkan masalah secara mandiri menggunakan metode ilmiah dan tidak termakan hal-hal yang belum jelas faktanya serta tidak hidup dalam budaya sekadar ikut-ikutan. Masih banyak generasi muda Indonesia yang mudah terbawa arus tren yang bermuculan di media sosial dengan tidak memikirkan apa manfaat tren tersebut untuk kehidupan dan agaknya belum dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. 

Narasi yang selalu dibawa, "Percuma nilai bagus kalau dari hasil mencontek.", namun pada akhirnya siswa yang nilainya tinggi akan tetap dihargai walaupun sikap asli mereka terbungkus pencitraan yang dimainkan dengan apik sehingga tujuan siswa terlihat hanya sekadar mendapatkan nilai yang tinggi dan melupakan esensi dari proses belajarnya. Tak jarang pula siswa di cap buruk dan kurang pintar hanya karena dia memiliki pandangan yang berbeda dari sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga dianggap menentang. Menjadi anak yang berbeda dan menentang terhadap budaya akan dianggap aneh dan salah di negara kita. Sekarang bukan lagi hidup di zaman, “Kerja dimana? Gajinya berapa?”, namun sudah jauh lebih modern daripada itu, “Sudah investasi apa saja? Sudah punya bisnis dimana saja? Sudah melakukan apa saja untuk negara dan apakah keahlianmu bermanfaat untuk oranglain?”, Kalau tidak ada generasi muda yang bertanya dan menentang terhadap suatu hal yang telah mengakar dan dipercayai oleh mayoritas masyarakat, bagaimana bisa perubahan itu terjadi? Sebuah inovasi dan perubahan itu akan tercapai pada saat ada orang yang bertanya dan pada saat ada orang yang menantang. Namun sayangnya, di negara kita, saat ada anak bersuara menyampaikan pemikiran yang berbeda dengan mayoritas masyarakat Indonesia, kemungkinan besar pendapatnya tidak akan diterima, seharusnya dari generasi yang lebih tua juga dapat menerima saat ada tantangan tersebut karena sebenarnya itu merupakan hal yang sehat untuk kemajuan negara. Menurutku, apapun permasalahan yang terjadi di setiap bidang sebetulnya berakar dari SDM. Jika sebuah negara ingin maju, harus ada pembangunan. Jika ingin ada pembangunan, maka harus ada SDM yang berkualitas. Bagaimana cara agar SDM berkualitas? Tentu saja pendidikan haruslah bagus, pendidikanlah akarnya. Dengan pendidikan yang bagus dan diiringi oleh penanaman kesadaran diri yang tinggi dalam setiap individu, diharapkan dapat melahirkan SDM yang bisa meningkatkan cara berpikir, menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan menjalankan hidup sebagai warga negara yang lebih baik. Dengan melihat potensi yang ada Indonesia, aku sangat yakin sebenarnya Indonesia bisa menjadi suatu negara yang besar jika benar-benar dimaksimalkan dengan baik oleh SDM yang berkualitas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TV VS PUBLIC FIGURE VS PEMERINTAH VS MASYARAKAT

Islam dan Rasionalitas