TV VS PUBLIC FIGURE VS PEMERINTAH VS MASYARAKAT
Ketika kita berbicara tentang industri hiburan Indonesia, seringkali kita menemukan kritik mengenai kualitas yang belum optimal. Dalam era digital yang semakin maju, harusnya kualitas industri hiburan kita semakin bagus, namun kenyataanya tidak seperti itu. Kenapa sih industri hiburan kita masih tertinggal dibandingkan negara lain? Apakah televisi, public figure, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan situasi ini? Yuk kita telusuri bersama, kira-kira faktor apa aja sih yang mempengaruhi kualitas industri hiburan Indonesia saat ini?
KASUS
#1 PROGRAM TV TIDAK MENDIDIK
Sudah bukan suatu rahasia umum lagi kalau program-program TV di Indonesia kebanyakan tidak mendidik. Isinya masih seputar gossip artis, acara kehidupan keluarga artis, sinetron cinta-cintaan yang diperankan oleh para minor, sinetron azab, dan program lainnya yang bikin geleng-geleng kepala. Acara-acara seperti ini sering kali menampilkan konflik dan jalan cerita yang dangkal yang berlebihan tanpa adanya nilai moral atau edukasi yang bisa diambil oleh penonton. Akibatnya, kualitas tayangan yang seharusnya dapat memperkaya wawasan penonton justru berkontribusi pada pembodohan massal. Contohnya, banyak sinetron Indonesia menampilkan drama yang tidak realistis dengan fokus pada perselingkuhan, konflik keluarga, dan balas dendam. Penonton, yang terutama dari kalangan remaja dan ibu rumah tangga, sering kali termakan oleh alur cerita ini dan menganggapnya sebagai cerminan kehidupan nyata. Nah, nilai-nilai seperti penyelesaian konflik yang sehat dan pentingnya pendidikan sering kali malah terabaikan.
"Banyak sinetron Indonesia menampilkan drama yang tidak realistis dengan fokus pada perselingkuhan, konflik keluarga, dan balas dendam. Penonton, yang terutama dari kalangan remaja dan ibu rumah tangga, sering kali termakan oleh alur cerita ini dan menganggapnya sebagai cerminan kehidupan nyata. Nilai-nilai seperti penyelesaian konflik yang sehat dan pentingnya pendidikan sering kali malah terabaikan." --Fira Mulia
"Oke, itu sinetron. Terus kalau gossip artis, dampak negatifnya apa fir? Kan suka-suka orang yang nonton" Hmmm, jangan salah. Program gosip artis yang tayang hampir setiap hari juga bisa memberi dampak negatif pada yang nonton lho. Misalnya, banyak penonton yang jadi terlalu fokus pada kehidupan pribadi selebriti, sehingga mengabaikan berita yang lebih penting dan mendidik. Hal ini bisa menyebabkan masyarakat jadi kurang kritis terhadap isu-isu yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Emang ada orang yang kayak gitu? Kalau kita pikirin, kayaknya kok nggak ada ya. Kenyataannya yang seperti itu di Indonesia, buanyak. Miris.
"Terus kalau azab? Bukannya ada nilai positifnya? Kata orang sih biar semakin takut sama Tuhan dan beriman" Hahaha, mau jadi orang yang beriman dan takut sama Tuhan ngapain nonton sinetron. Lagian, apa sih isinya sinetron azab? Sinetron kayak gini sering kali menampilkan kejadian supernatural dan hukuman-hukuman fantastis bagi karakter yang dianggap berbuat dosa. Hal ini justru mempengaruhi cara berpikir masyarakat, membuat mereka lebih percaya pada takhayul dan hal-hal irasional. Banyak orang yang jadi takut melakukan kegiatan tertentu karena percaya bahwa mereka akan mendapatkan azab seperti yang digambarkan dalam sinetron tersebut. Ini menghambat logika dan pemikiran kritis, serta dapat mengakibatkan masyarakat menjadi lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang irasional.
Alhasil :
- Banyak orang beragama tidak mau melakukan maksiat bukan karena dari hati dan kesadaran diri, namun karena takut dihukum. Jadi, kalau suatu hari dia merasa nggak takut, akan mencoba berbuat maksiat karena dia nggak tahu dampak untuk dirinya dan orang lain di dunia.
- Percaya takhayul, nggak mau melakukan suatu hal karena takut 'pamali', padahal kalau dilakukan juga nggak kenapa-kenapa. Misalnya, jangan potong kuku sore-sore nanti blablabla. Lah, emangnya kenapa? Aku kalau potong kuku sering waktu sore malah. Contoh lainnya, kalau ada orang yang jadi banyak cuan dikirain babi ngepet. Haduh haduh, kasihan babinya dituduh terus jadi siluman. Sekarang ini ada yang namanya WFH, bisa kerja dimanapun dengan gaji oke, ditambah ada instrumen investasi juga kayak saham, bitcoin, dan lain-lain, tapi kok banyak yang fokus ke babi ngepet sama pelihara tuyul. Pokoknya masih banyak hal lain lah berita-berita terkait hal ini yang membuat aku istighfar dan mengehela napas terus. Gimanapun juga, itu suatu kepercayaan atau 'budaya' Indonesia ya, mau nggak mau tetap harus menghargai, tapi bukan berarti harus dimakan mentah-mentah kan?
"Sinetron seperti ini sering kali menampilkan kejadian supernatural dan hukuman-hukuman fantastis bagi karakter yang dianggap berbuat dosa. Hal ini justru mempengaruhi cara berpikir masyarakat, membuat mereka lebih percaya pada takhayul dan hal-hal irasional. Banyak orang yang jadi takut melakukan kegiatan tertentu karena percaya bahwa mereka akan mendapatkan azab seperti yang digambarkan dalam sinetron tersebut. Banyak orang beragama tidak mau melakukan maksiat bukan karena dari hati dan kesadaran diri, namun karena takut dihukum. Jadi, kalau suatu hari dia merasa nggak takut, akan mencoba berbuat maksiat karena dia nggak tahu dampak untuk dirinya dan orang lain di dunia." --Fira Mulia
#2 BANYAK SENSASI BANYAK REZEKI
Di Indonesia, banyak orang yang rela memilih mencari sensasi daripada memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Prinsip "banyak sensasi banyak rezeki" seolah menjadi pedoman. Misalnya, perkelahian, pernyataan kontroversial, selingkuh settingan, memamerkan gaya hidup mewah. Konten semacam ini cenderung menarik perhatian media dan masyarakat Indonesia, yang pada gilirannya meningkatkan popularitas mereka. Selebriti yang terkena masalah, bukannya semakin redup, tapi semakin menyala. Semakin banyak orang yang menaruh perhatian, semakin besar peluang mereka untuk mendapatkan endorsement dan kerjasama dengan berbagai brand atau perusahaan. Hal ini juga ada hubungannya dengan pihak televisi tadi. Dampaknya adalah pergeseran nilai di masyarakat, di mana popularitas dan jumlah followers di media sosial menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Hal ini mengesampingkan pentingnya kontribusi positif dan kualitas karya yang dihasilkan. Selain itu, fenomena ini juga dapat mempengaruhi generasi muda yang melihat sensasi sebagai jalan pintas menuju kesuksesan, tanpa harus berusaha keras atau memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. "Banyak sensasi banyak rezeki" mencerminkan Indonesia, di mana kebanyakan sensasi lebih dihighlight dibandingkan karya ataupun kontribusi positif.
#3 LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL YANG TIDAK SEHAT
Aku merasa, saat ini masyarakat lebih rentan terhadap berita hoax dan misinformasi yang beredar di media sosial. Misalnya, banyak orang yang dengan mudah mempercayai informasi tidak benar tentang kesehatan, politik, atau kejadian internasional tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Seperti yang pernah aku sampaikan di tulisanku sebelumnya, "LESSON LEARNED", yang mana saat ini kita sedang dihadapkan dengan fenomena orang melihat dengan mulut, mendengar dengan mulut, tanpa mau membuka mata. Alhasil, banyak sekali masyarakat yang sering termakan tren yang bisa jadi tidak berdampak positif dan tenggelam terhadap budaya 'ikut-ikutan'. Kita tidak bisa menyepelekan hal ini, mungkin di lingkunganku, atau lingkunganmu, terlihat baik-baik saja, namun dunia di luar sana bisa saja gila. Banyaknya berita hoax dan misinformasi di media sosial bisa jadi masalah serius. Keterbukaan dan akses yang luas terhadap informasi di dunia maya seringkali membuat orang mudah terperdaya dan mengonsumsi konten tanpa mempertimbangkan kebenaran yang dapat mengarah pada penyebaran informasi yang salah, memicu ketidakpercayaan, kebingungan, bahkan dapat membahayakan nyawa.
#4 MINIMNYA DUKUNGAN ANAK BANGSA BERPRESTASI
Anak bangsa yang berprestasi di bidang seni dan hiburan sering kali kurang mendapatkan dukungan yang memadai baik dari media maupun pemerintah. Jangankan bidang seni deh, bidang pendidikan aja masih kurang. Banyak karya kreatif dan inovatif yang tidak mendapat tempat di televisi karena dianggap TIDAK KOMERSIAL. Akibatnya, potensi anak bangsa untuk berkembang dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional tidak maksimal, padahal kalau ditelusuri lagi, banyak sekali karya anak bangsa yang berkualitas dan memiliki bakat yang luar biasa. Menurutku, peran pemerintah dan masyarakat juga sangat penting dalam memberikan dukungan dan apresiasi terhadap prestasi anak bangsa. Dengan memberikan pengakuan dan dukungan moral, kita dapat memotivasi lebih banyak anak bangsa untuk mengeksplorasi bakat dan kreativitas mereka serta menghasilkan karya-karya yang membanggakan bagi bangsa Indonesia.
"Menurutku, peran pemerintah dan masyarakat juga sangat penting dalam memberikan dukungan dan apresiasi terhadap prestasi anak bangsa. Dengan memberikan pengakuan dan dukungan moral, kita dapat memotivasi lebih banyak anak bangsa untuk mengeksplorasi bakat dan kreativitas mereka serta menghasilkan karya-karya yang membanggakan bagi bangsa Indonesia." --Fira Mulia
#5 HANCURNYA NET. TV
Siapa yang dulu penggemar NET. TV? Kita tos dulu hehe. NET. TV pernah menjadi harapan baru bagi industri pertelevisian Indonesia dengan menawarkan program-program yang berkualitas dan mendidik, bahkan dicap sebagai TV anti gosip dan sensasi. Sayangnya, nggak jauh setelah ICA 5.0, NET. TV ternyata mengalami penurunan kualitas dan perubahan arah karena ganti pimpinan dan harus kejar rating. Hampir semua program-program edukatif digantikan oleh tayangan yang lebih komersial. Aku inget banget, waktu programnya masih sangat bagus, memang sih iklan yang lewat dikit banget, bahkan pernah nggak ada iklan sama sekali. Jadi waktu break, terkadang cuma ada tayangan program-program mereka sendiri. Sedih dan nyesek rasanya.
#6 DIMANA KPI?
Nah, ini nih. KPI seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas siaran televisi. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah, dimana KPI? Banyak program televisi yang seharusnya mendapat teguran justru dibiarkan tayang terus menerus. Harusnya tayangan-tayangan yang tidak mendidik dan pembodohan masyarakat ini ditindak tegas, bukan malah fokus ke sensor Shizuka. Masa nggak bisa membedakan sih mana tontonan yang berkualitas sama yang enggak? Terus ngapain deh di KPI? Tujuan masuk KPI apa sih? Nggak mau melihat masyarakat Indonesia pada pinter? Pengawasan dan tindakan tegas dari KPI padahal sangat diperlukan untuk meningkatkan standar siaran televisi di Indonesia.
MENCARI TAHU AKAR PERMASALAHAN
Setelah mengetahui kasus tadi, aku sendiri jadi penasaran, kira-kira apa ya yang bisa mempengaruhi hal tersebut. Ini salah siapa? TVnya? KPI? Pemerintah? Public Figure? Atau masyarakatnya? Izinkan aku mengupas satu persatu terkait hal ini.
SISI TELEVISI
Apakah ini semua salah televisi? Faktanya, yang telah dibahas tadi, program-program yang menampilkan gosip selebriti, konten tidak penting, reality show, dan kawan-kawannya sering kali mendapatkan rating tinggi. Akibatnya, media dan produser acara televisi lebih memilih menampilkan hal sensasional dibandingkan konten yang mendidik atau memberikan nilai positif. Ini menunjukkan adanya hubungan simbiosis mutualisme antara selebriti yang mencari sensasi dengan media atau televisi yang mengejar rating dan iklan. Banyak banget masyarakat yang protes : "Kalo di Indonesia, orang yang berprestasi jarang dikenal, nggak diundang ke TV, giliran joget-joget, pacaran, ngomong berchandya diundang ke tv". Yaaaa, salah siapa? Balik lagi, TV ngeliat rating, yang nonton banyak, dan terkadang tim dari pihak TV idenya juga sering bikin geleng-geleng kepala. It is what it is?
Mungkin pihak televisi takut mencoba berubah ke program yang berkualitas karena riskan untuk mendapat rating buruk?? Namun mengapa? Itu artinya mereka berpikir terhadap kelompok sendiri dan diri sendiri? Bagaimana masyarakat dan negara? 1 tayangan TV itu dapat mempengaruhi kualitas pikiran dan mental yang mengonsumsi, apakah tidak sadar akan hal itu? Siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus tanggung jawab? Sedih rasanya kalau banyak sekali individu, terutama anak-anak yang tidak memiliki akses tontonan yang berkualitas sesuai umurnya, sehingga harus menonton acara random yang tayang di televisi, terkadang orang tuanya pun lalai dan bodoamat terhadap tontonan anaknya sendiri. Apa yang bisa kita harapkan?
SISI PUBLIC FIGURE
Public figure, baik artis, selebriti, maupun influencer, sering menjadi panutan masyarakat dan harusnya bisa menjadi panutan masyarakat. Perilaku dan tindakan mereka, baik di layar kaca maupun di kehidupan nyata, bisa sangat mempengaruhi penonton. Public figure juga sering memproduksi konten yang mereka bagikan di media sosial dan televisi, namun terkadang kontennya berisi pembodohan atau mengandung unsur negatif yang bisa memberikan contoh yang buruk bagi penonton. Melihat fenomena ini, biasanya para public figure merasa bodo amat dan bersembunyi di balik tameng 'aku jadi diri sendiri aja', 'namanya juga manusia'. Dari sini, kualitas seorang public figure terlihat. Mana yang hanya ingin terkenal, mana yang hanya ingin cari uang, dan mana yang tahu dampak terhadap masyarakat. Seharusnya, public figure bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Itu bukan pencitraan, namun tanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Makanya, jadi public figure sebenarnya juga bukan hal yang mudah, harus memiliki kesadaran diri yang tinggi dan memperhatikan impactnya juga.
SISI MASYARAKAT
Jujur aja, masyarakat sering kali lebih menyukai konten ringan dan hiburan instan. Sehingga tingginya permintaan terhadap konten sensasional dan hiburan rendah kualitas mendorong pihak public figure, media, ataupun stasiun TV untuk terus memproduksi tayangan serupa. Miris sih jujur. Aku juga masih jarang melihat partisipasi aktif masyarakat dalam mengkritisi konten yang tidak layak dan memberikan feedback kepada stasiun TV, jadi aku berharap banget akan ada terus anak muda yang peduli terhadap hal ini dan bekerja sama untuk menyuarakan masalah ini. Nggak bisa dipungkiri, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki tingkat kesadaran diri yang masih kurang tentang pentingnya pengaruh sebuah kualitas konten. Masyarakat harusnya hanya fokus mendukung public figure dan konten yang berkualitas dengan cara aktif mencari dan menyebarkan informasi tentang konten-konten yang mendidik, menginspirasi, dan menghibur secara positif. Jadi, aku mohon sekali kepada kalian, jika melihat konten yang tidak memiliki mutu yang bagus, cukup untuk TIDAK MENANGGAPI. Tidak perlu pencet like, komentar, share, ataupun menulis ujaran kebencian. 1 like, 1 komentar, 1 share, punya dampak yang besar bagi kualitas industri hiburan kita tapi masih banyak masyarakat kita yang masih belum sadar & menyepelekan hal ini :) Sedih
"Masyarakat harusnya hanya fokus mendukung public figure dan konten yang berkualitas dengan cara aktif mencari dan menyebarkan informasi tentang konten-konten yang mendidik, menginspirasi, dan menghibur secara positif." --Fira Mulia
SISI PEMERINTAH
Yahh, menurutku sih, menurutku ya, pemerintah kurang tegas dan kurang menyoroti atas permasalahan ini. Atau, dianggap tidak ada masalah? Harusnya pemerintah perlu menetapkan regulasi yang jelas dan tegas terkait konten yang boleh disiarkan di televisi. Regulasi ini harus mencakup standar etika, moral, dan kualitas yang harus dipatuhi oleh stasiun televisi. Jika terdapat pelanggaran terhadap regulasi yang telah ditetapkan, pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas kepada pelanggar, bukannya malah dimanja. Harapannya sih nggak hanya tertulis saja ya, namun harus benar-benar diterapkan. Jadi teringat, aku pernah menonton salah satu siniar di YouTube, yang sempat membahas kualitas industri hiburan Indonesia dan peran pemerintah terhadap pekerja seni. The sad reality is sistem kita dari awal udah salah, nggak ada upaya sama sekali untuk memperkenalkan 'ini loh Indonesia', 'ini loh kualitas yang seharusnya diemban sama negara kita', 'ini loh ciri khas yang harus kita perkenalkan', intinya nggak ada strategi itu. Bahkan ketika ada musisi Indonesia yang sudah mencapai puncak & lagunya udah hits banget, contohnya waktu itu 'LATHI' ternyata tidak didukung pemerintah sama sekali lho, dan aku agak kaget karena baru tahu setelah nonton siniar tersebut. Pantes aja, banyak orang mancanegara yang nggak tahu kalau lagu-lagu Indonesia yang hits di kancah internasional sebetulnya karya anak bangsa. Sedih part kesekian.
Saran boleh? Pemerintah harusnya memiliki peran dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilih konten yang berkualitas dan mendukung tayangan yang memberikan nilai-nilai positif. Bisa dilakukan 'kampanye' melalui berbagai media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak dari konten atau program televisi yang kurang bermutu. Pemerintah juga harus bisa membangun dan dapat mendukung pembangunan industri kreatif yang lebih berkualitas dan mendidik dengan memberikan insentif kepada produser program televisi yang menghasilkan konten yang mendukung pendidikan, budaya, dan nilai-nilai positif. Dana pasti ada dong? Bisa lah.
Aku juga berharap pemerintah dapat menjalin kerjasama dengan negara lain dalam mengembangkan standar dan regulasi yang lebih baik untuk industri hiburan. Dengan berbagi pengalaman, bisa menghasilkan peluang yang lebih efektif dalam mengatasi permasalahan yang sama. Melalui peran yang proaktif dan efektif dari pemerintah dalam mengatur industri pertelevisian, akan dapat tercipta lingkungan yang lebih sehat dan bermanfaat bagi masyarakat.
SISI LEMBAGA PEMERINTAH: KPI
Kalau ini, namanya jelas-jelas terpampang nyata Komisi Penyiaran Indonesia, tapi sayangnya, aku nggak tahu kerjanya ngapain. Ada yang bisa jelasin?
CONTOH BAIK
"Kamu bilang, kualitas industri hiburan Indonesia belum punya mutu bagus? Emang yang bagus apa?" Nah, kali ini aku akan memberi beberapa contoh yang baik dari Industri Hiburan Korea Selatan. Bukan karena aku K-POPers lho ya, justru karena aku juga merupakan salah satu dari sekian saksi perkembangan industri hiburan Korea Selatan yang dulu pernah dihujat, jadi hari ini aku bisa tulis dan memberikan contoh. Ternyata dari bertahun-tahun yang lalu, Korea Selatan sudah menentukan strategi untuk menyebarkan budaya Korea ke dunia. Sebagai contoh nyata, saat zaman k-pop belum se-wow saat ini, pemerintah sana mulai mengirim banyak pelajar Korea Selatan ke luar negeri untuk studi, dan dari situlah anak-anak Korea Selatan mulai menjalankan 'misi' untuk 'mempengaruhi' dan memperkenalkan ke orang lain tentang budayanya. Mungkin kalau flashback ke zaman itu ya, orang masih kurang tertarik, namun itu merupakan bagian dari upaya. Contohnya, waktu itu tahun 2012, aku mulai suka & mengikuti K-POP karena saat itu ada kasus plagiasi yang dilakukan oleh penyanyi Indonesia terhadap salah satu K-POP group, lalu aku cari lagu originalnya, dan ternyata aku suka dan akhirnya menjadi KPOPers. Hal ini membuktikan bahwa salah satu agensi Korea Selatan berhasil menghasilkan karya dan memperkenalkan sampai luar negara, tapi memang saat itu peminatnya masih sangaaattt sedikiiitt, bahkan konser SNSD live di Indonesia dulu bisa-bisanya tayang di INDOSI*R. Siapa yang SONE? Pasti nobar kan hahaha. Eh, maaf jadi oot. Balik lagi, aku ingat, sempat ada beberapa temanku yang menjudge "halah korea bagusnya apa?", "bahasanya aneh", "bocah alay", "banci", "sok imut". Nggak laki-laki, nggak perempuan, kebanyakan mulutnya sama aja pada waktu itu menghujatnya. Tapi tapi tapi, kurang dari 5 tahun, apa yang terjadi? Bagaimana perkembangannya? Boom! Nggak disangka-sangka kan? Bahkan orang yang dulu suka menghujat ujung-ujungnya juga jadi seorang K-POPers. That's cool.
Nahhh, dari sini bisa kita lihat kalau sistem industri hiburan mereka sangat tertata rapi, ada agensi yang terstruktur dan bertanggung jawab, ada yg namanya masa trainee yang membuat si idol itu matang dari segi bakat maupun attitude sebagai public figure, didukung penuh sama pemerintah, mau berevolusi dan berinovasi, ditambah lagi masyarakatnya juga nggak gampang dibodohi. Kalau ada public figure yang problematik atau kontroversial, siap-siap diblacklist dan karirnya redup karena nggak pantas untuk dijadikan seorang public figure. Menurutku itu fair, karena mereka paham terhadap dampak untuk kualitas industri hiburan negara sendiri. Kalau di sini, artis yang terkena masalah pelecehan seksual malah disambut dan diundang di TV. Pelecehan seksual loh. EDAN, EDAN, GILA, GILA, CRAZY, CRAZY, 미친 미친. Kalau ada kasus atau kontroversi lain, yang misalnya menimpa public figure yang memiliki paras cantik atau tampan, banyak masyarakat juga yang masih aja membela, "Yang penting cakep, gue maafin", "Kalian ngaca dong, emang kalian nggak pernah bikin salah?", "Jangan diulangi lagi yaa syg". Orang Indonesia kebanyakan nggak enakan yak.
Oke, lupakan hal tadi, kita balik ke contoh Korea Selatan. Hebatnya lagi, karena kualitas industri hiburan mereka yang sangat baik, dunia nggak hanya tahu seputar dunia K-POP saja, namun sampai dramanya, film, makanannya, budayanya, bahasanya, sampai tempat wisatanya.
HARAPAN
Sebetulnya Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, terlebih kita merupakan negara yang multikultur. Setelah melihat banyak sekali faktor, masalah, dan contoh tadi, seharusnya seluruh pihak bisa sadar sih atas permasalahan ini, bukan malah untuk versus-versus an dan memikirkan diri sendiri. Dengan kesadaran dari seluruh pihak terhadap permasalahan yang ada di industri hiburan serta komitmen untuk bekerja sama dalam mencari solusi, Indonesia bisa mengoptimalkan potensi tersebut untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, tidak hanya dalam bidang hiburan, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Indonesia, kalau benar-benar dipegang oleh individu atau pihak yang layak dan dimaksimalkan dengan baik, sebenarnya akan lebih baik juga dan memiliki peluang besar. Semangat & optimis dulu. Indonesia Emas 2045? ~~~
What a great piece🔥
BalasHapusGILA!!! DAGING SEMUAAAAAA ISINYAAA. Semangat terus firaa nulisnyaa! Keep shininggg sist♡
BalasHapusmantapp, setuju banget ini
BalasHapus