IT'S OKAY TO NOT BE OKAY

Hmmm, judul kali ini terdengar klasik banget ya.. Tapi memang itu kalimat yang paling bisa mewakili tulisanku kali ini. 

Kamu pernah nggak, merasa kalau kamu kuat, kamu bisa, kamu harus berusaha, bahkan berusaha keras, maunya mikir terus, maunya produktif terus, sampai-sampai sebenernya kamu capek, tapi kamu nggak merasa capek. Bahkan.. denial dengan rasa capek itu sendiri?

"Loh fir, terus taunya capek gimana? Kan nggak kerasa. Fine fine aja dong" Iya, kita memang merasa biasa saja, tapi ternyata fisik, perilaku, dan mental nggak akan bisa berbohong.

Di sini aku akan membahas pengalamanku tentang keraguan pribadi atas dampak kelelahan, dan harapannya bisa membantu kamu yang sedang dalam fase kehidupan yang sama seperti aku bisa menjadi lebih baik. Akupun yakin, ada banyak orang yang mengalami hal serupa, namun mungkin solusi dan pandangannya bisa berbeda-beda. 

Setiap orang punya cara masing-masing untuk menghadapi mental breakdown-nya. Ada yang memilih menyendiri, ada yang melarikan diri ke pekerjaan, ada juga yang mencoba terus tersenyum seakan semuanya baik-baik saja. Terkadang aku cuma pengen tidur lama, nggak ngapa-ngapain, dan pura-pura dunia berhenti sebentar. Tapi, hidup tetap terus berjalan. Untungnya~~ Nggak dong, Bernadya dong.

Ya, intinya di saat seperti itu, aku mulai mencari jati diriku, dan apa yang sebenarnya menjadi keinginan dan tujuanku. 


TEMU LETIH - Pahami Emosi

Belakangan ini aku cukup merasa hectic, tapi kok kayak ada yang kosong. Kadang duduk sendiri, diem, dan ngerasa... nggak mood ngapa-ngapain, bahkan terkadang keluar air mata yang diselimuti emosi sedih tanpa tahu apa penyebabnya. Di situlah aku mulai ngerti kalau ternyata aku nggak sedang baik-baik aja. Bahkan, sama emosi diri sendiri nggak peka. Kamu pernah gini juga nggak?

Terkadang aku terlalu memaksakan diri untuk bisa jago di semua bidang yang aku tekuni. Rasanya sayang kalau dilewatin... takut ketinggalan, takut nggak cukup kompeten. Tapi lama-lama aku sadar, semua rasa "takut" itu ternyata berasal dari dalam diriku sendiri, dari standar tinggi yang aku bentuk tanpa sadar, dari ekspektasi yang aku kira datang dari luar. Ketika semua mulai menumpuk, aku nggak bisa langsung bilang “Oh aku capek". Kupikir selama ini aku cuma kurang kopi haha, tapi sebenarnya aku butuh 'obat', butuh tenang, butuh momen untuk merasa… nggak apa-apa kalau hari ini sedang nggak baik. 

Nggak perlu jadi sempurna, nggak perlu selalu terlihat hebat. Dengan kamu memahami emosimu sendiri dan bisa mengolahnya dengan tenang, lalu mencari solusi yang terbaik sudah menunjukkan bahwa kamu hebat. 

Terkadang, hal yang tidak terlihat oleh orang lain itu adalah sesuatu yang paling bernilai.


PELIPUR JIWA - Temukan Obatmu

Pernah nggak kamu berusaha terlalu keras hingga memaksa dirimu sendiri, sampai membuatmu sadar bahwa kamu butuh 'obat' yang at least bisa membuat kamu lebih baik?

Semester kemarin sama semester kali ini rasanya cukup berbeda. Bukan soal tugas atau kegiatan yang makin numpuk (sudah biasa hiks TT). Tapi soal rasa yang ikut datang barengan semua kesibukan itu. Kalau dulu, walau sibuk, aku masih bisa ketawa lepas, masih bisa merasa “penuh”. Sekarang, entah kenapa ada ruang kosong yang tiba-tiba kerasa. Ada bagian dari diri ini yang hilang, tapi nggak tahu apa.

Semester kemarin sebenarnya kegiatan numpuk, jadwal padat, tugas sana-sini. Tapi entah kenapa aku nggak ngerasa sesepi ini. Mungkin karena di semester kemarin aku punya support system yang solid. Tiga teman perempuanku yang selalu menemaniku ke mana-mana, tempat ketawa, bahkan tempat diem bareng pun tetap terasa hangat. 

Saat lebaran kemarin, rasanya hatikupun penuh karena berkumpul dengan keluarga dalam waktu yang cukup lama. 

Kilas balik bulan februari hingga maret kemarin, aku mengenal dan bertemu banyak orang dengan background dan pengalaman yang berbeda. Dalam pertemuan-pertemuan itu, aku belajar hal baru, dan rasanya seperti ada yang mengisi ruang-ruang dalam diriku, rasanya happy ketika ada teman ngobrol, diskusi, dan belajar banyak. 

Makanya aku cukup merasa aneh.. Selama ini—bahkan dalam tiga tahun terakhir, aku merasa nggak masalah ketika sendiri. Aku nyaman melakukan semuanya sendiri, mengerjakan apa-apa sendiri, bahkan sering mikir kalau sendiri itu lebih efisien. Tapi ternyata, ketika situasi berubah dan aku nggak punya orang buat sekadar sharing… rasa sepi itu datang tanpa aba-aba, padahal di fase kehidupanku sebelumnya mungkin tahun 2019-2023, aku tidak pernah merasa kesepian walaupun sendiri. 

Bukan berarti sekarang aku tidak enjoy ketika sendirian, bahkan sampai saat ini aku masih suka travelling sendirian. Tapi nggak bisa dipungkiri, ada saat di mana aku benar-benar merasa bahwa ternyata di beberapa moment tertentu, aku juga perlu 'obat' di luar diriku yang bisa membuatku lebih baik. 

Di situ aku sadar : obatku bukan cuma istirahat, bukan cuma tidur, bukan cuma hobi. Tapi obatku adalah… orang-orang yang membawa kedamaian. Kehadiran mereka selama ini adalah salah satu yang membuat aku tetap kuat berdiri, bikin aku merasa nggak sendirian karena energi positif mereka.

Kalau kamu gimana? Sudah menemukan obat terbaikmu?


JEDA BERMAKNA

Menemukan obat terbaik merupakan salah satu faktor eksternal yang bisa membuat kita jadi lebih baik. Tapi kamu sadar kan bahwa penguasanya adalah faktor internal? Alias.. ya dirimu sendiri. 

Kamu pernah nggak ngerasa lagi semangat-semangatnya, ide ngalir terus, kerjaan beres, semuanya terasa lancar... tapi beberapa hari kemudian, tiba-tiba semuanya drop? Rasanya kayak stuck, nggak ada motivasi, bahkan hal-hal yang biasanya kamu suka pun jadi terasa hambar. Padahal kamu nggak tahu kenapa, karena secara teknis, semuanya baik-baik aja. 

Kamu nggak merasakan rasa capek, tapi tubuhmu menyuruhmu berhenti. 

Terkadang, saat sedang drop itu, kita jadi mempertanyakan diri sendiri. "Kenapa ya aku jadi males?" atau "Kok tiba-tiba nggak semangat?" Terus mulai deh muncul rasa bersalah karena nggak seproduktif biasanya. Padahal sebenarnya... itu wajar. Kita manusia, ada masanya on, ada masanya off. Dua-duanya penting. 

Dalam kasusku, memiliki banyak kegiatan di bidang yang berbeda memang membuatku senang. Akan tetapi, terkadang aku melupakan bahwa aku juga manusia yang terbatas. Aku menyadari bahwa terlalu menekuni banyak hal terkadang bisa membuatku mudah labil dan sulit fokus di 1 hal. Biasanya sifat labil dan kesulitan fokus itulah yang bisa menjadi boomerang untuk diriku sendiri dan tentunya berdampak juga bagi produktivitasku, bahkan sampai hubungan sosial dengan orang lain.

Dulu aku pikir, kalau aku sibuk dan aktif terus, itu tandanya aku berkembang. Tapi makin ke sini, aku sadar… nggak semua kesibukan berarti pertumbuhan. Kadang, terlalu banyak hal yang aku kejar sekaligus dalam waktu singkat justru bikin aku kehilangan arah. Fokusku terbagi, energi terkuras, dan akhirnya hasil nggak maksimal.

Aku perlu mempelajari dan memperbarui cara hidupku, serta menyadari kapan aku harus berhenti sejenak, kapan berjalan pelan-pelan, dan kapan harus berusaha maksimal. Aku sedang belajar lebih mengenal diri sendiri supaya bisa benar-benar baik dan bermanfaat untuk orang lain. Nggak bisa dipungkiri, kadang sifat labil dan egoku yang cukup tinggi itu bisa tanpa sengaja melukai atau merugikan orang lain, dan sekarang aku nggak mau itu terulang lagi. Maka dari itu, menyadari kekurangan diri dan menerima dirimu dalam kondisi yang tidak baik justru bisa membuatmu menjadi manusia yang lebih baik. 

"Aku terus belajar untuk memperbarui cara hidupku, serta menyadari kapan aku harus berhenti sejenak, kapan berjalan pelan-pelan, dan kapan harus berlari dengan segenap tenaga. Menyadari kekurangan diri dan menerima diri dalam kondisi yang tidak ideal justru bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik." —Fira Mulia 

Dari situ aku belajar satu hal penting : Berada dalam fase tidak baik-baik saja itu bukan kelemahan. Justru itu alarm alami dari tubuh dan jiwa kita untuk bilang, "Hey, slow down a bit." Menerima bahwa kita sedang nggak oke adalah langkah awal buat mulai lebih mengenal diri sendiri.  

Menjadi produktif dengan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menghasilkan sesuatu yang berkaitan dengan hal yang kita perjuangkan memang bagus. Tapi, seringkali yang kita butuhkan adalah untuk beristirahat atau masuk ke fase yang mewajarkan kita untuk bergerak lebih pelan. Inilah yang mengizinkan kita untuk melihat detail yang biasanya terlewatkan. Ini juga yang mempermudah kita untuk mengadopsi perspektif baru yang dapat membantu kita melesat lebih jauh lagi saat memasuki fase produktif berikutnya. 

Aku ingin kasih 1 quotes bagus yang menurutku cukup relate dengan tulisanku kali ini :

"Setiap orang berpindah dari musim kehidupan yang satu ke musim kehidupan yang lainnya. Terkadang kita ada di fase belajar, terkadang di fase bekerja, dan terkadang kita juga ada di fase istirahat. Akan tetapi, sedikit dari kita yang berhenti sejenak dan meng-update cara berpikir kita untuk menyesuaikan dengan fase-fase kehidupan ini." - Ali Abdaal

Untuk kamu yang sedang membaca ini dan mungkin sedang lelah serta mempelajari fase hidup baru, peluk jauhh! <3  Kadang kita cuma butuh jeda, bukan menyerah. Pelan-pelan, yang penting tetap bernapas. 

Komentar

  1. hi kakk!! aku follow kakak di instagram dari 2022, aku suka bgt tulisan kakak dan gtw kenapa pasti relatable banget😭😭 mksh ya kak, you make my day better🤎 sering" update blog lagi yah kakhihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii Farida! Tolong km bisa dm aku yaa :) Thank youu so muchh supportnyaaa! <3

      Hapus
    2. very on point & nice writings!!

      Hapus
  2. kamu merasa sedang dalam masa off, tapi kamu nulis di blog ini. kamu sadar ga si? sama aja sebenernya kamu dalam masa produktif lmao. unik si, malah bisa dibalik ga si? hal yang menurutmu ga produktif bisa sebenernya jadi hal yang paling produktif

    BalasHapus
  3. IH KAKKK,,, AKU LAGI NGALAMIN GINI JUGA.... MAKASIH BANYAK KAK FIRAAA

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TV VS PUBLIC FIGURE VS PEMERINTAH VS MASYARAKAT