BULLY

Banyak sekali hal yang telah aku lalui selama 17 tahun hidup di dunia ini. Memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dari wilayah yang berbeda merupakan hal yang luarbiasa dan aku merasa ini kesempatan buatku untuk melihat dunia lebih luas, mulai dari budaya, habbit, hingga lingkup pergaulan. Tentunya perjalanan hidupku akan terus berlanjut dengan datangnya segala kemanisan dan kepahitan. Namun dalam tulisan ini, izinkan aku untuk fokus menceritakan kepahitan dan rintangan hidup yang pernah aku alami. Aku harap, kamu dapat membaca ini hingga selesai agar pesan dalam tulisan ini dapat tersampaikan dengan benar tanpa terpotong-potong.

Kanak-kanak

Pernah tahu rasanya dibully? Ya, tidak nyaman. Aku mengalami bullying pertamaku di umur 6 tahun. Aku dibully hanya karena fisik dan penampilanku. Aku tidak mengerti mengapa ada beberapa orang yang bisa melontarkan kata-kata yang begitu jahat kepada anak yang masih berumur 6 tahun. Aku masih ingat rasanya, dijauhi, dihina, dikucilkan. That's so irrational. Tentu saja hal itu menjadi suatu hal yang sulit untuk dihandle oleh seorang anak kecil. 

Di bangku kelas 4 SD, aku juga pernah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari seorang guru. Aku tidak tahu mengapa aku tidak begitu disukai olehnya. Aku ingat, saat itu ada tugas untuk membuat prakarya dari barang bekas, lalu aku memutuskan untuk membuat mainan kereta api dari kardus yang kususun kotak panjang lalu aku warnai agar menjadi cantik. Saat namaku dipanggil untuk menunjukkan hasil karyaku ke depan, tahu bagaimana responnya? "Karya apa ini? Lebih cocok untuk dibuang ke tong sampah". Melihat respon itu, aku hanya bisa menangis sembari mendengar tawa dari beberapa orang. 

Tumbuh Remaja

Di umur 15 tahun, aku diharuskan untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan yang baru. Perbedaan pasti ada, entah itu baik maupun buruk. Banyak hal yang mengagetkan pun mulai terjadi, dan ini juga soal bully. Aku pernah dijadikan sebagai bahan candaan dan I'm being underestimated. Hal itu terjadi hanya karena aku berbeda dan pendiam, terkadang aku sudah mencoba untuk berbaur namun keberadaanku tidak dianggap. Rasanya, aku ini seperti angin yang lewat saja. Oh, tidak. Angin masih terlalu bagus untuk itu karena orang dapat merasakannya, mungkin sebutan yang paling cocok adalah... tembok. Ada beberapa orang menganggap bahwa I can do nothing. Aku sadar bahwa tidak semua manusia mau belajar untuk menghargai atau melihat suatu hal dari banyak sisi. Banyak yang masih menganggap dirinya paling keren, ingin menang sendiri, dan merasa paling berkuasa. Ternyata setelah menyelami dan mengamati hal baru ini, The World Is Full of Blind. 

Pada saat itu, aku merasa sangat terpukul karena lingkungan sosial yang kejam. Aku selalu meminta kepada Tuhan agar terlepas dari lingkungan yang aku rasa toxic dan tidak sehat bagiku tanpa harus bercerita kepada orang terdekatku. Setiap malam aku mengurung diri di kamar sambil memegang pensil yang akan kutuliskan di buku dan menyadari bahwa bukuku sudah dipenuhi dengan tetesan air mata. Jika harus flashback terhadap masa itu, rasa traumanya masih tersisa hingga sekarang. Mengapa orang-orang begitu jahat? Mengapa mereka berjumlah banyak?


BERDAMAI

Di umurku sekarang, 17 tahun, aku kembali ke rumah. Apakah pandemi menyelamatkan ku? Mungkin iya di awal, walaupun cukup menyulitkan juga di beberapa kondisi. Namun, saat ini aku benar-benar dapat menjadi diri sendiri, mengenali diri sendiri. Aku mempelajari banyak hal selama di rumah, aku juga belajar bagaimana aku dapat melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang. Menjadi bahan candaan oleh oranglain, harusnya tidak menjadikanku sebagai manusia yang lemah, justru aku harus membuktikan bahwa aku adalah manusia kuat. Karena pertanyaanya, manusia yang suka merendahkan orang lain, apakah betul lebih baik dari kita? Apakah mereka memiliki attitude yang baik? Nggak. 

"Menjadi bahan candaan oleh oranglain, harusnya tidak menjadikanku sebagai manusia yang lemah, justru aku harus membuktikan bahwa aku adalah manusia kuat." -Fira Mulia

Mereka yang masih suka merendahkan orang lain tanpa alasan memiliki sudut pandang yang terbatas karena mereka menganggap bahwa diri mereka lah yang sempurna, padahal yang terjadi tidaklah seperti itu. Kualitas diri seseorang nggak akan dapat dibohongi, kok. Jika kita sudah berada di level A, mengapa kita harus memikirkan perkataan orang yang masih di level E? Justru kita harus membuktikan bahwa kita lebih baik dari mereka dan fokus terhadap diri kita sendiri. 

Hal lain yang aku sadari : Saat berada dalam lingkungan yang tidak sehat tersebut, I can't be me. Namun di luar itu, ternyata masih banyak orang yang selalu mendukung dan mencintaiku dengan segala kekurangan yang aku punya. Sekarang aku sangat merasa bersyukur pernah mengalami kepahitan tersebut karena aku tahu bahwa mereka tidak layak untuk menjadi bagian dari hidupku, sehingga aku tahu mana yang terbaik untukku, dan apa yang harus aku lakukan kedepannya. Kejadian pahit juga membuatku lebih peka, sehingga aku juga tidak akan pernah mau untuk berbuat hal yang tidak baik kepada orang lain. It's ok to be different, everyone is unique. Ini semua hanya kembali ke manusia terhadap pilihan hidupnya, apakah ingin menjadi manusia yang baik atau buruk. I learned a lot. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TV VS PUBLIC FIGURE VS PEMERINTAH VS MASYARAKAT

IT'S OKAY TO NOT BE OKAY