Islam dan Rasionalitas
Pada tulisan kali ini, aku akan membahas topik yang cukup berat. Aku yakin akan ada dari pembaca yang pro ataupun kontra atas topik yang aku tulis kali ini dan aku dapat memahami jika ditemukan adanya perbedaan pendapat. Disini, aku hanya menulis keresahanku terhadap Islam dan meluruskan terhadap pandangan yang salah tentang agama Islam di Indonesia saat ini. Aku juga akan menyertakan hal yang pernah aku pelajari selama 18 tahun tentang dunia Islam, Pengetahuan, dan Kesadaran Diri. Dengan hal itu, pertanyaan "Apakah Islam dan Rasionalitas dapat berjalan berdampingan?" dapat terjawab dengan baik.
"Islam dan Rasionalitas? Mana bisa! Islam itu agama yang sangat tertutup. Kebanyakan umatnya nggak rasional, biasanya suka merendahkan dan nggak adil kepada kaum minoritas. Sudah jelas Islam mematikan rasionalitas umatnya."
Hal tersebut sering aku temui ya, dan aku nggak bisa membantah opini ini karena pada faktanya memang betul banyak sekali seorang muslim terutama di Indonesia yang perilakunya sangatlah membuat geleng-geleng kepala. Yang perlu menjadi highlight disini adalah, apakah Islam betul mematikan rasionalitas umatnya, atau umatnya sendiri yang sebetulnya mematikan rasionalitasnya sendiri dan bertentangan dengan ajaran yang utama dalam Islam?
Apa itu Islam?
Pengertian Islam secara harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “Salama” (Selamat). Dari pengertian Islam ini, dapat ditarik kesimpulan, Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk menebarkan keselamatan dan kedamaian, antara lain tercermin dalam ucapan doa keselamatan "Assalamu'alaikum warohmatullah" yang berarti, semoga keselamatan dan kasih sayang Allah dilimpahkan kepadamu. Peringatan hari Raya Idul Fitri juga sangat mencerminkan agama Islam yaitu dimana harapannya manusia dapat berdamai, berbagi kebahagiaan, dan menjalin silaturahmi antar sesama. Eid-ul-Fitr is a day of rejoicing and bliss. It is a day of blessing and peace. Most of all, it is a day to celebrate brotherhood and sisterhood.
Pada saat ini, aku merasa, masih banyak orang yang mengidentikkan Islam sebagai agama yang fundamentalisme. Padahal makna Islam sendiri berarti damai, namun persepsi terkait Islam masih banyak yang salah mengartikan. Sebetulnya, siapapun boleh menjadi Islam yang fundamentalis, namun jangan sampai salah arah dan malah melenceng dari anjuran agama yang sebenarnya. Siapapun yang menyebarkan perdamaian dan mengikuti ajaran Islam dengan baik, ya itu muslim yang sebenarnya. Maka dari itu, kalau melihat seorang muslim masih sering mencari masalah, tidak menghargai agama lain, menebarkan kebencian, ya itu bukan muslim yang sebenarnya. Terkadang manusia berorientasi pada manusia lain, sehingga menjadi hal yang sangat wajar jika banyak yang salah tangkap terhadap agama Islam karena muslim yang mengaku 'religius' namun perilakunya terbalik dengan Al-Qur'an jumlahnya sangatlah banyak. Secara logika, orang dengan agama yang berbeda dari Islam, otomatis tidak akan mau menjadi salah satu bagian dari kelompok tersebut karena melihat perilaku dari banyak umatnya, terutama di Indonesia. Kecuali, jika seseorang benar-benar belajar agama Islam dari 0 dan melihat dari sisi ilmiahnya juga, sehingga ada korelasi antara 2 hal ini, kalau berpikirnya juga memakai akal sehat. Muslim banyak di dunia, akan tetapi seorang muslim yang dapat mencapai taraf dengan sebutan Islam yang kaafah sangat sedikit, mungkin hanya sekian persen dari umat muslim yang ada di dunia.
"Siapapun yang menyebarkan perdamaian dan mengikuti ajaran Islam dengan baik, ya itu muslim yang sebenarnya. Maka dari itu, kalau melihat seorang muslim masih sering mencari masalah, tidak menghargai agama lain, menebarkan kebencian, ya itu bukan muslim yang sebenarnya. Terkadang manusia berorientasi pada manusia lain, sehingga menjadi hal yang sangat wajar jika banyak yang salah tangkap terhadap agama Islam karena muslim yang mengaku 'religius' namun perilakunya terbalik dengan Al-Qur'an jumlahnya sangatlah banyak" -Fira Mulia
SEJARAH
Islam pernah menjadi agama yang sangat jaya di masa lalu. Masa kejayaan Islam terjadi pada sekitar tahun 650-1250 tidak jauh dari wafatnya Nabi. Pada kurun waktu itu, terdapat dua kerajaan besar (Kerajaan Umayyah dan Abbasiyah). Pada masa Kerajaan Umayyah, perkembangan Islam ditandai dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam dan berdirinya bangunan-bangunan sebagai pusat dakwah Islam sedangkan perkembangan Islam pada masa Bani Abbasiyah ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.
Kemajuan Islam pada masa tersebut meliputi bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, arsitektur, sosial, dan bidang militer. Ada faktor yang membuat Islam menjadi agama yang maju pada masa itu dan disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Aku mempelajari hal ini dari buku sejarah Islam dan ternyata telah memiliki banyak bukti serta berkaitan dengan dunia science. Karena pada saat SMA aku mengambil jurusan IPA, aku sangat familiar dengan ilmu-ilmu yang telah ditemukan, yang nanti akan aku sebutkan di bawah.
Internal :
• Ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk maju
• Islam sebagai agama dakwah sekaligus keseimbangan dalam menggapai kehidupan duniawi dan akhirat
• Konsistensi pengajaran sebagai muslim yang kaafah
Eksternal :
• Munculnya Asimilasi
• Gerakan Terjemah Kitab
Pada masa ini, usaha penerjemahan kitab-kitab asing dilakukan dengan sangat giat. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum terutama di bidang astronomi, kedokteran, science, filsafat, kimia, hingga sejarah. Contohnya :
1) Melaksanakan ajaran Al-Qur’an dengan maksimal, di mana banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyuruh agar kita menggunakan akal untuk berpikir.
2) Melaksanakan isi hadis, di mana banyak hadis yang menyuruh kita untuk terus-menerus menuntut ilmu, meskipun harus ke negeri Cina. Bukan hanya ilmu agama yang dicari, namun ilmu lain yang berhubungan dengan kehidupan manusia di dunia ini.
3) Mengembangkan ilmu agama dengan berijtihad, ilmu pengetahuan umum dengan mempelajari ilmu filsafat Yunani. Maka, pada saat itu banyak bermunculan, ulama, tauhid, tafsir, hadis, ulama bidang science, dan lainnya.
Dari hal tersebut, munculah tokoh-tokoh Islam yang memiliki semangat untuk mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan, antara lain :
• Filsafat :
- Al-Kindi (Bapak kriptografi, penulis salah satu buku berjudul On First Philosophy, buku filsafat pertama yang membahas tentang Tuhan)
- Al Farabi (Dikenal dengan kitabnya tentang music yang berjudul “Al-Musiqa.”, juga dikenal sebagai salah satu penemu not-not dasar musik)
- Ibnu Bajah (Menulis karya-karya tentang astronomi, fisika, musik, filsafat, kedokteran, dan puisi)
- Al-Ghazali (Sosok ulama yang menaruh perhatian terhadap proses internalisasi ilmu serta pelaksana pendidikan dan moral. Untuk menyiarkan agama Islam, Beliau memelihara jiwa dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu pendidikan merupakan ibadah dan upaya peningkatan kualitas diri)
- Ibnu Rusd (Ahli hukum Islam, filsafat, menguasai ilmu kedokteran, bahasa, fisika, dan astronomi),
dan lain-lain
• Kedokteran
- Ibnu Sina (Karyanya yang paling terkenal adalah Kitab Penyembuhan dan Qanun Kedokteran "Al-Qanun fi At Tibb")
- Jabir bin Hayyan (Salah satu cendekiawan Muslim dalam Kimia, menemukan teori distilasi, retort, kristalisasi, kalsinasi)
- Al-Zahrawi (Bapak Ilmu bedah)
- Hurain bin Ishaq (Seorang dokter yang ahli di bidang menerjemahkan naskah ilmiah Yunani klasik dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab)
- Ar-Razi atau Rhazes (Pencipta asam sulfat),
dan lain-lain
• Matematika
- Al-Biruni (Peletak dasar teori perhitungan segitiga bola ; hisab al-mutsallatsat/trigonometri)
- Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi (Bapak Matematika, Penemu Al-Jabar, dan penemu angka 0)
- Thabib bin Qurra (Meninggalkan karya berharga yaitu penentuan luas bumi dan penemu jam matahari "Mazawil asy-Syamsiyyah"),
dan lain-lain
• Astronomi
- Al-Farazi (Pencipta Astrolabe)
- Al-Battani/Al-Betagnius (Melakukan penelitian terhadap lamanya revolusi bumi)
- Abul Wafa (Menganalisis penentuan waktu terbit matahari, perkiraan panjang musim, dan derajat kemiringan bumi dari garis elips. Beliau juga pencipta buku Al-Kamil yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, salah satu di antaranya oleh Carra de Vaux dalam bahasa Perancis pada 1892. Buku tersebug mirip dengan kitab klasik yang berjudul Almagest, (Claudius Ptolemeus yang : 140 SM) Buku tersebut berisi pengetahuan astronomi kuno dan menguraikannya berdasarkan pandangan geosentrisme. Meskipun Al-Kamil merupakan versi Almagest yang disederhanakan, Abu al-Wafa' juga membahas bagian kedua eveksi Bulan sedemikian rupa dan di dalam buku itu, Abu al-Wafa’ berhasil memperbaiki kekeliruan dan teori Ptolemeus mengenai gerak Bulan)
- Al-Farghani atau Al-Fragenius (Penentuan diameter bumi, ukuran planet, jarak antarplanet, serta penulis buku Elements of Astronomy on the Celestial Motions sekitar tahun 833. Buku ini pembaruan dari Almagest oleh Ptolomeus dan menjadi sumber utama yang digunakan oleh para sarjana Eropa untuk mempelajari astronomi Ptolemeus. Buku ini sebagian besar bertanggung jawab atas munculnya sistem astronomi Yunani Ptolemeus di Barat. Buku ini telah beredar dalam beberapa edisi Latin dan dipelajari secara luas di Eropa antara abad ke-12 dan ke-17),
dan lain-lain
• Ilmu Hadist
Imam Bukhori, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, At-Tarmidzi, dan lain-lain.
PERSOALAN
Setelah membaca sejarah tentang kemajuan Islam pada masa itu, rasanya akan sangat miris jika melihat mayoritas perilaku seorang muslim sekarang yang tidak menggunakan akal atau tidak rasional dalam memahami serta mengambil suatu kesimpulan maupun keputusan. Terutama di Indonesia, hal-hal seperti ini sangat lumrah dijumpai dengan alasan 'membela agama' padahal hal tersebut dapat melenceng dari apa yang sebetulnya diajarkan yang akhirnya menimbulkan pertanyaan seperti : Mengapa citra kebanyakan seorang muslim sangatlah buruk? Mengapa agama Islam sangatlah tertutup terhadap perubahan? Mengapa kebanyakan orang Islam itu bodoh? Mengapa kelompok minoritas di Indonesia selalu mengalami diskriminasi?
Yang sering aku jumpai dan amati, ada dua mekanisme tribalistik ini dalam retorik sang taqlid ketika beradu argumen :
• Defensif
Contoh :
"Kamu suka kritik Islam artinya kamu musuh Islam. Wajar kalau kamu dihabisi"
"Kamu kafir dan sesat"
• Lempar batu
Contoh :
"Kamu cuma bisa mengkritik Islam, coba liat agama yang lain yang mendzalimi agama Islam!"
Belakangan ini, sedang heboh juga terkait pembubaran ibadah jemaat Gereja Kristen di Lampung. Ini jelas merupakan masalah penindasan terhadap minoritas. Tak hanya melanggar ajaran agama, namun juga melanggar hukum.
Tribalistik: Us vs Them, Loyalty over Learning, kesetiaan pada kelompok lebih penting daripada akal dan belajar. Karena hal ini pula kelompok tersebut mudah ditipu dan dijadikan massa politik. Bahkan ketika ada orang lain yang ingin menjelaskan serta membawa pencerahan akan dianggap mengancam teritori mereka. Reaksi mereka di dunia maya adalah menghina, sedangkan di dunia nyata, mereka akan menggunakan fisik. Opini dibalas dengan darah. Orang gila. Tentunya ini sendiri sudah melenceng jauh dari apa yang sebenarnya diajarkan oleh Islam. Namun mereka selalu bersembunyi dalam kebodohan dengan menggunakan kata "Mati Syahid". Lucu.
What is it in the religion of Islam that makes its believers become tribalistic and infantilized?
Bukankah Al-Quran yang diklaim sebagai kitab agama Islam mengajarkan hidup beriman dan berdamai? Menggunakan akal? Mengapa jadi seperti simulator perang dan kecenderungan ke sociopathy? Ada apa di agama Islam yang menyebabkan penganutnya seperti anak kecil, berlomba cari aman untuk diri sendiri, tidak peduli dengan kebenaran? Mengapa masih saja ada kesan seakan Islam diidentikkan dengan terorisme?
Hal ini dapat terjadi karena sebagian pelaku teror itu beragama Islam, meskipun kita juga jumpai tidak sedikit di antara pelaku teror yang tidak beragama Islam. Namun, kita harus mengakui, di antara mereka yang beragama Islam, mereka mendasarkan pada pemahaman tertentu terkait ajaran Islam. Otak mereka dicuci, dan mereka menjadi oknum yang tentunya akan menanggung dosa yang sangat besar. Jadi sesungguhnya, ada pemahaman serta cara pandang yang melampaui batas sehingga memunculkan tindakan kebodohan yang ekstrem.
Menurutku, kita harus memahami betul ketika ingin menerjemahkan dan menafsirkan 'teks' yang menjadi sumber ajaran Islam. Salah satu contohnya, menyalah pahami tentang perang. Konteks perang itu harus dipahami dan dimengerti secara menyeluruh lho, karena apa sih makna perang dalam Islam sebenarnya? Tidak bisa sembarang orang dapat melakukan perang bahkan mengartikan perang secara sempit. Perang dalam Islam adalah upaya mempertahankan diri dari serangan musuh. Bukan secara agresif memulai tindak kekerasan kepada pihak-pihak yang memerangi kita. Jadi, dalam situasi damai di dunia saat ini, sangat dosa besar dan sangat tidak layak untuk menerapkan ayat-ayat perang dalam masa sekarang. Apalagi, tidak bisa setiap orang atau sekelompok orang seenaknya menetapkan perang. Penentuan sebuah perang harus dilakukan oleh pemerintahan yang sah, sebuah pemerintahan yang disepakati bersama, begitu juga tempat dan waktunya. Tidak bisa begitu saja. Kalau begitu saja, demi alasan "mati syahid" ya itu namanya kebodohan, sesat, dan dosa besar.
"Salah satu hal yang digarisbawahi oleh para ulama kita adalah kita seringkali terlalu terikat dengan pendapat lama yang justru baik pada masanya, tapi tidak baik lagi pada masa kita sekarang. Yang ingin saya garis bawahi pendapat-pendapatnya itu benar pada masanya. Namun, sudah harus berubah pada masa sekarang. Ini tantangan kita, sekarang ini lebih lagi sekian banyak pendapat yang sudah populer tetapi salah karena dikemukakan oleh orang-orang yang tidak memenuhi syarat untuk menafsirkan Al-Qur’an. Boleh jadi keterbatasannya karena memang dia tidak cerdas, boleh jadi keterbatasannya karena keahliannya dalam bidang ilmu tertentu. Karena itu, kata Abbas Al-Aqqad, seandainya sahabat-sahabat Nabi itu hidup di zaman sekarang pasti pendapatnya yang lama dia ubah, karena perkembangan ilmu dan zaman" -Prof. Quraish Shihab
Satu-satunya jawaban yang jelas, agama Islam sudah disusupi sumber-sumber lain yang bertentangan dengan pesan di dalam Al-Quran. Akhirnya, kebanyakan dari pemeluknya fokus ke sumber lain itu hanya untuk beragama dan bergolongan, membela pemuka agama dan leluhur, bukannya beriman kepada Tuhan dan hidup bersesama. Padahal jelas sekali, sejarah mengatakan bahwa semakin muslim tidak rasional, maka semakin mundur Islam dari peradaban. Semakin muslim rasional, maka semakin maju Islam dalam peradaban. Dalam konteks jihad di masa ini, harusnya kita berperang melawan kebodohan, melawan kemiskinan, melawan keterbelakangan yang harus terus kita upayakan bersama. Itu yang justru sangat diajarkan dalam Islam. Bukan malah terbalik. Sejarah tidak pernah menemukan kondisi dunia yang benar ketika bumi dikuasai oleh orang-orang yang tidak rasional.
Pertentangan antara manusia rasional dengan manusia taklid memang tak ada habisnya. Saat ini, jika kita menghubungan agama dan rasionalitas, akan dicap sebagai orang yang "sok", "sesat", "kafir" atau kurang belajar ilmu agama. Sama halnya di zaman kejayaan Islam dulu, Ilmuwan Islam yang tumbuh saat itu dilabeli sebagai seorang kafir oleh sesama muslim lainnya yang irasional. Hampir semua ilmuwan dianggap tidak beriman ketika mereka menggunakan rasionalitasnya. Padahal, mereka sang Ilmuwan telah belajar dan memahami Al-Qur'an sedari kecil.
"Padahal jelas sekali, sejarah mengatakan bahwa semakin muslim tidak rasional, maka semakin mundur Islam dari peradaban. Semakin muslim rasional, maka semakin maju Islam dalam peradaban. Dalam konteks jihad di masa ini, harusnya kita berperang melawan kebodohan, melawan kemiskinan, melawan keterbelakangan yang harus terus kita upayakan bersama. Itu yang justru sangat diajarkan dalam Islam. Bukan malah terbalik. Sejarah tidak pernah menemukan kondisi dunia yang benar ketika bumi dikuasai oleh orang-orang yang tidak rasional." -Fira Mulia
JAWABAN
Jujur saja, sebagai seorang muslim, selama ini aku sempat berada dalam posisi labil karena aku bukan tipikal orang yang suka memakan mentah-mentah suatu informasi, apalagi suatu ajaran yang serius. Terlahir sebagai seorang muslim, bukan berarti aku harus meng-iyakan semua hal yang belum di pelajari tanpa tahu alasannya. Mungkin sering kita jumpai juga bagaimana perbedaan iman dari seorang muslim dari lahir dan seorang mualaf. Iman seorang mualaf biasanya lebih kuat, dan mereka betul-betul mempelajari serta mencari apa itu Islam yang sesungguhnya. Aku masih melakukan pencarian sangat lama, bahkan hingga sekarang. Karena terkadang aku juga berorientasi terhadap manusia lain, aku bertanya kesana-kemari tentang agamaku sendiri bahkan mencari keberadaan Tuhan. Mungkin orang-orang di sekitarku sudah lelah dengan pertanyaan-pertanyaan "WHY" ku. Namun, semakin aku pelajari, baca, memahami, banyak bertanya, semakin aku penasaran dan aku juga menjadi semakin mengerti. Ternyata di dalam Islam, apapun yang akan dilakukan manusia semuanya telah diatur, mulai dari hal kecil hingga hal besar, dan ternyata semua itu dapat detail dijelaskan secara ilmiah. Semuanya juga memiliki hubungan selalu sebab-akibat dan kembali lagi, ujung dari setiap persoalan adalah perdamaian & pengetahuan.
"Sebagai seorang muslim, selama ini aku sempat berada dalam posisi labil karena aku bukan tipikal orang yang suka memakan mentah-mentah suatu informasi, apalagi suatu ajaran yang serius. Terlahir sebagai seorang muslim, bukan berarti aku harus meng-iyakan semua hal yang belum di pelajari tanpa tahu alasannya. Mungkin sering kita jumpai juga bagaimana perbedaan iman dari seorang muslim dari lahir dan seorang mualaf. Aku masih melakukan pencarian sangat lama, bahkan hingga sekarang. Karena terkadang aku juga berorientasi terhadap manusia lain, aku bertanya kesana-kemari tentang agamaku sendiri bahkan mencari keberadaan Tuhan." -Fira Mulia
Sebenarnya, yang Islam hadapi pada saat ini adalah musuh dari peradaban itu sendiri. Jarang ditemukan orang menggunakan agama dan rasionalitas berjalan dengan bersamaan. Padahal, jika agama tidak menggunakan akal maka yang diciptakan adalah dogma/mitos. Seharusnya rasionalitas ditaruh di depan dan digunakan untuk memahami segala fenomena yang sesungguhnya terjadi di dunia. Dalam rangka rasionalisasi praktik keagamaan yang lahir pada zaman ilmu pengetahuan dan pada tingkat kejernihan rasio manusia, Al-Qur’an memperkenalkan terma-terma akal dalam bentuk kata kerja aktual (fi’il mudhare/continues) dengan beragam derivasi dan pengulangannya dalam Al-Qur’an. Hal ini bertujuan untuk mengawal masyarakat menuju keimanan kepada Allah dengan landasan penghormatan yang sangat besar terhadap akal/rasionalitas. Ajakan-ajakan logis dan rasional tersebut berupa keimanan dengan mengandalkan argumentasi rasional. Islam tidak pernah berusaha mengerdilkan akal dalam rangka keimanan kepada Allah. Sebaliknya, Islam senantiasa memacu akal agar berperan aktif dalam menggapai keimanan yang dapat memuaskan pikiran dan perasaannya pada setiap sektor kehidupan.
"Sebenarnya, yang Islam hadapi pada saat ini adalah musuh dari peradaban itu sendiri. Islam tidak pernah berusaha mengerdilkan akal dalam rangka keimanan kepada Allah Swt. Sebaliknya, Islam senantiasa memacu akal agar berperan aktif dalam menggapai keimanan yang dapat memuaskan pikiran dan perasaannya pada setiap sektor kehidupan." -Fira Mulia
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shad : 29)
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan hewan bagaimana mereka diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghasyiah : 18-20)
"Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa" (QS. Al-Baqarah : 179)
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" (QS. An-Nisaa : 82)
"Dan jika Allah menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya" (QS. Yunus : 99)
Pesan dari ayat-ayat Al-Qur'an di atas jelas maknanya, manusia diminta untuk dapat memikirkan berbagai hikmah dan alasan di balik ketentuan Allah dalam syari’at-Nya. Dalam hidup ini, tidaklah berjalan linear dan otomatis mengikuti syari’at keagamaan yang telah diatur oleh Allah dalam Al-Qur’an. Sehingga untuk dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang hikmah di balik hal tersebut. Mereka yang tidak memahami hikmah di balik ini terkadang tidak mampu mewujudkannya di alam nyata akibat dari kelemahan pikiran dan jiwanya (irasional). Di sinilah Al-Qur’an berperan untuk membangkitkan rasionalitas akal agar dapat menjalankan aturan dan hikmah syariat agar mereka mampu memberdayakannya dengan cara yang paling baik dan tepat dalam berbagai kondisi dalam hidup. Sekali pun Al-Qur’an telah mengarahkan akal manusia dengan menyodorkan fakta-fakta rasional yang tidak terbantahkan, Al-Qur’an tetap memberi ruang kebebasan bagi akal untuk memilih. Apakah ia memilih jalur ilmu dan iman yang rasional, ataukah tetap dalam gelapnya kekafiran yang tidak rasional. Sudah sepantasnya kita hidup sebagai seorang muslim yang mengutamakan akal sehat sehingga dalam melakukan sesuatu kita tahu tujuannya apa, untuk siapa, dan dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah. Itulah iman yang sesungguhnya. Akal manusia adalah sumber dari setiap kebajikan manusia.
"Sekali pun Al-Qur’an telah mengarahkan akal manusia dengan menyodorkan fakta-fakta rasional yang tidak terbantahkan, Al-Qur’an tetap memberi ruang kebebasan bagi akal untuk memilih. Apakah ia memilih jalur ilmu dan iman yang rasional, ataukah tetap dalam gelapnya kekafiran yang tidak rasional. Sudah sepantasnya kita hidup sebagai seorang muslim yang mengutamakan akal sehat sehingga dalam melakukan sesuatu kita tahu tujuannya apa, untuk siapa, dan dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah. Itulah iman yang sesungguhnya. Akal manusia adalah sumber dari setiap kebajikan manusia." -Fira Mulia
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. May the divine blessings of Allah touch every aspect of your life and make it blissful. Aamiin.
Tulisannya bagus. Untuk mempertajam analisis jawaban, hendaknya perlu menggunakan filsafat empirisme dan rasionalisme sebagai kajian teori
BalasHapusTerima kasih atas masukannyaa :) Akan segera diperbaikii
BalasHapus