Unspoken Connections
Ada kalanya kita merasa terhubung dengan seseorang, bahkan tanpa interaksi langsung. Bukan karena sering ngobrol, bukan karena kenal dekat, tapi karena kehadirannya selalu terasa ada. Mungkin kamu belum pernah ngobrol, dan nggak punya alasan jelas kenapa dia menarik perhatianmu, tapi setiap kali kalian berpapasan, ada rasa yang sulit dijelaskan.
Pertanyaannya mulai muncul : Apakah dia juga merasakan hal yang sama? Apakah dia juga memperhatikan?
Lucunya, kadang kita mencoba mencari pembenaran logis atas perasaan yang sepenuhnya intuitif. Padahal, bisa jadi jawabannya sesederhana ini: dia menatap, karena dia punya 2 mata.
Tapi tetap aja, ada semacam tarik-ulur batin. Kamu tahu kamu nggak punya cukup alasan untuk berharap, tapi juga nggak bisa sepenuhnya cuek. Tiap kali kamu berusaha untuk berhenti memikirkan, semesta malah memunculkannya lagi di hadapanmu, dengan cara yang nggak pernah bisa kamu prediksi.
Di titik tertentu, kamu mungkin bertanya ke diri sendiri : apa maksud dari semua kebetulan ini?
Cinta memang nggak selalu rasional. Bahkan kadang, yang paling membekas justru adalah yang tak pernah benar-benar terucap. Perasaan yang hanya tinggal dalam diam, tapi cukup kuat untuk mengubah cara kita melihat.
Meskipun kamu sadar bahwa kemungkinan kalian nggak ditakdirkan untuk bersama, tetap saja ada ruang kecil dalam hati yang intuisinya tertuju pada orang yang sama. Bukan berharap memiliki, mungkin cuma ingin tahu… apa artinya semua ini?
Pada akhirnya, kita hanya bisa memberi ruang pada rasa yang muncul, tanpa harus buru-buru menyimpulkan. Mungkin dia bukan untuk dimiliki. Mungkin dia hanya hadir untuk membuatmu sadar : bahwa rasa bisa tumbuh bahkan dari ketidakpastian. Bahwa kamu masih bisa merasakan sesuatu yang murni, tanpa validasi, tanpa alasan. Dan barangkali, itu sudah cukup.
Komentar
Posting Komentar