Transformasi Diri - Life Update!
Hai lingkungan baru! Yup, pindah ke lingkungan baru adalah momen yang aku jadikan sebagai titik balik untuk mencoba sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Sudah ada kurang lebih 2 bulan aku tinggal di lingkungan baruku yang sekarang. Nggak terlalu terasa asing sih, karena ada beberapa saudara dan teman yang tinggal di sini.
Ini pertama kalinya aku merasakan jauh dari keluarga inti. Di semester awal perkuliahan aku nggak dibolehin jauh-jauh sama orang tua haha, love my parents. Akhirnya, sekarang aku bisa mengambil pilihanku sendiri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman baru.
TUKAR
Aku pernah
berpikir : “Gimana kalau aku jadi ekstrovert?”, “Gimana kalau aku jadi seorang
yang lebih peduli dengan orang lain?”, “Gimana kalau aku re-branding diri?”
Apakah aku
bisa?
Di
lingkungan sebelumnya, aku cenderung pendiam, bahkan hampir nggak pernah
ngomong kalau bukan sesuatu yang penting. Kali ini, aku ingin keluar dari zona
nyaman, dan lebih membuka diri untuk membangun koneksi, karena itu salah satu tujuan
utamaku ke sini.
Aku datang
ke tempat ini bukan sendirian; ada beberapa teman dari satu region yang juga
pindah bersama ke sini. Namun, keadaan cukup berbeda ketika berada di tempat
baru ini.
Mereka yang dulu sering menggema dan penuh kata tiba-tiba menjadi pendiam dan tidak berbaur dengan yang lain. Mungkin karena mereka merasa lingkungan ini berbeda, sehingga ada rasa takut untuk menunjukkan diri mereka yang sebenarnya karena takut dihakimi. Aku dapat memahaminya. Itu persis seperti apa yang aku lakukan ketika masa sekolah dulu yang mengharuskan aku pindah ke lingkungan baru.
Kali ini, aku memilih untuk menjadi sosok yang lebih terbuka dan memulai pembicaraan dengan orang-orang baru, sebuah hal yang tidak pernah aku lakukan di masa lalu.
Namun, perubahan ini ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Aku merasa seperti sedang memaksakan diri untuk menjadi seseorang yang bukan diriku. Rasanya aneh, seperti memakai topeng yang sama sekali tidak cocok. Aku jadi sering melontarkan obrolan basa-basi, mencoba bercakap-cakap dengan orang yang bahkan aku tidak kenal, hanya agar tidak terlihat terlalu canggung atau tertutup. Itu membuatku merasa tidak nyaman, seperti aku sedang bermain peran yang tidak sesuai dengan karakternya. Sederhananya : sok asik banget bre.
TANTANGAN
Biasanya,
aku selalu ‘dipungut’ oleh anak yang lebih aktif dan banyak bicara. Sekarang, aku mencoba untuk
menjadi inisiator dalam hubungan, dan itu jujur saja sulit bagiku.
Aku benar-benar bingung harus mulai dari mana, bagaimana cara membuka
percakapan yang menarik, atau menjaga agar pembicaraan tidak menjadi kaku. Pada
akhirnya, aku sering merasa konyol dan ceroboh dalam proses ini, seperti
kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Tapi aku tahu, tujuan utama dari perubahan ini adalah untuk memperluas lingkaran sosialku. Aku ingin berkembang, mencoba hal baru, dan melihat seberapa jauh aku bisa mendorong batasan diriku. Dalam perjalanan itu, aku sadar bahwa usaha untuk mengubah diri adalah tantangan besar. Ada proses panjang yang penuh dengan ketidaknyamanan, kesalahan, bahkan rasa malu.
Aku tahu bahwa sering kali, penilaian orang terhadap kita bukan hanya soal siapa kita sekarang, tetapi juga bagaimana kita menghadapi segala kekurangan dan ketidaknyamanan diri kita sendiri. Aku sadar bahwa tidak semua orang akan mengerti kenapa aku berubah atau kenapa aku berusaha keras untuk menjadi lebih terbuka, dan itu tidak masalah.
PELAJARAN
Pada
akhirnya, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya soal mengubah diri
menjadi seseorang yang berbeda, tetapi tentang menemukan keseimbangan antara
mencoba menjadi lebih terbuka tanpa menghilangkan identitas asliku.
Aku juga banyak belajar dari orang-orang di sekitarku sekarang, bagaimana cara memperlakukan orang lain, bagaimana cara membangun sebuah hubungan, dan bagaimana menjalani hidup sebagai makhluk sosial. Hal itu akan terus aku pelajari walaupun cukup sulit.
Bagaimana
pun juga, aku tetap seorang introvert. Seberapa keras aku mencoba menutupinya, jiwa itu tetap akan terlihat seiring dengan berjalannya waktu.
Yang penting
adalah aku belajar untuk menjadi lebih berani dalam membuka diri, sedikit demi
sedikit, sambil tetap menghargai diriku yang sebenarnya. Terkadang,
proses belajar itu tidak tentang menjadi orang lain, melainkan tentang menjadi
versi terbaik dari diri kita sendiri, di mana pun kita berada.
Komentar
Posting Komentar