NICE WOMAN SUPPORT NICE WOMAN
Seringkali kita mendengar istilah “women support women”, tetapi apakah kita benar-benar memahami maknanya? Secara sederhana, itu berarti perempuan saling mendukung satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan, baik karier, kehidupan pribadi, maupun kesehatan mental. Intinya, kita tidak melihat perempuan lain sebagai kompetisi, melainkan sebagai sesama manusia yang dapat berkembang bersama.
Namun, satu pertanyaan muncul: apakah kita harus terus mendukung perempuan yang justru merugikan kita dan suka menjelek-jelekkan? Jawabanku : Tidak. Setiap orang, baik pria maupun wanita, harus tahu batasan. Dukungan bukan berarti membiarkan diri kita terluka demi mempertahankan solidaritas semu. Karena mendukung perempuan lain tidak sama dengan membenarkan perilaku tercela, manipulatif, bahkan merusak.
Nah, pertanyaan berikutnya: "Kalau gitu, gimana cara tahu mana perempuan yang benar-benar suportif dan genuine?" Nggak ada jawaban lain selain observasi dan 'nyemplung' langsung.
OBSERVASI 1 - Ilusi Keakraban
Aku pernah menemukan sebuah kelompok besar yang, di awal, tampak ideal. Suasananya terasa hangat, orang-orangnya terlihat ramah, manis, dan semuanya tampak mendukung satu sama lain. Tapi setelah cukup mengetahui di dalamnya, aku mulai merasa ada sesuatu yang berbeda.
Perlahan, aku menyadari bahwa "dukungan" yang mereka tunjukkan sebenarnya hanyalah permukaan. Di baliknya, ada budaya gossip yang kuat, dianggap lucu, bahkan jadi bahan hiburan utama. Mereka bisa bersikap manis dan ramah di depan orang yang mereka bicarakan, tapi di belakang? Ceritanya bisa berubah 180 derajat.
Aku bingung... kenapa orang bisa nyaman membicarakan keburukan orang lain, seakan itu hal biasa? Lama-lama aku sadar, meskipun banyak yang bilang "yaudah lah, namanya juga cewek-cewek," tetap aja itu nggak bisa dibenarkan. Karena sikap menjatuhkan, siapa pun pelakunya, laki-laki atau perempuan, tetaplah merugikan.
Aku tetap berusaha untuk memahami mengapa bisa seperti itu, and that's because they have lived in the same environment since they were young, nggak 'nomaden'. Biasanya, this kind of upbringing makes it harder for them to accept differences or perspectives that fall outside their familiar bubble.
Saat itu, aku mencoba mulai menunjukkan keanehan dan kekuranganku secara terbuka. Seperti yang bisa ditebak, mereka mulai menjauh. Nggak langsung frontal, tapi terasa jelas dari perubahan sikap mereka. Ini semacam mission completed moment. Tapi di sisi lain, aku juga sadar : ya, mungkin memang nggak cocok. Bukan berarti mereka sepenuhnya salah, atau aku sepenuhnya benar, hanya tidak berada di frekuensi yang sama.
Dan itu nggak apa-apa.
Kadang kita perlu mengakui bahwa tidak semua lingkungan cocok untuk kita. Dan tidak semua orang harus kita pertahankan, apalagi kalau keberadaan kita membuat mereka tidak nyaman, atau sebaliknya. The most important thing is that I enjoy observing people around xixi
"Emang Lo Gak Pernah Gossip?"
Ya pernah lah. Dulu, waktu aku masih insecure, nggak punya kesibukan, takut sendirian, aku cukup sering ikut-ikutan gibah. Lingkungan di sekitarku juga melakukan hal yang sama, jadi aku merasa itu adalah hal yang wajar.
Sampai pada satu titik, aku mulai merasa tidak nyaman. Aku sadar bahwa kebiasaan itu justru menjauhkan aku dari hal yang lebih penting : mengenali dan memperbaiki diri sendiri. Aku terlalu sibuk menyoroti kekurangan orang lain sampai lupa bahwa aku juga punya banyak hal yang perlu dibenahi.
Dari situ, aku mulai memahami satu hal :
“Hal yang salah bisa tampak benar jika dilakukan oleh banyak orang. Dan hal yang benar bisa terlihat salah jika hanya dilakukan sendirian.”
Prinsip di atas berlaku luas, bukan cuma dalam konteks bergosip, tapi juga dalam hal lain seperti mencontek, menyuap, bahkan korupsi. Ketika sesuatu dilakukan bersama-sama, sering kali nurani kita jadi tumpul. Padahal, benar dan salah tidak pernah tergantung pada kuantitas pelakunya.
Ketika aku berani meninggalkan circle tersebut, aku tidak merasa kehilangan apa pun. Justru aku merasa lega. Itulah seleksi alam dalam hubungan sosial. Pada akhirnya, energi yang sejalan akan saling menemukan.
OBSERVASI II - Gurls in Harmony
Di sisi lain, aku juga pernah bertemu dengan sekelompok perempuan yang jumlahnya hanya tiga orang, tapi kualitas interaksinya sangat berkesan. Mereka bisa tertawa bersama, berdiskusi hal yang bermakna, tentang pekerjaan, humor, serta perkembangan diri. Tidak ada drama, tidak ada gosip yang tidak perlu.
Aku juga melakukan tes yang sama seperti sebelumnya, tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka tidak menjauh, mereka tidak menghakimi. Mereka justru menunjukkan empati, bahkan memberi ruang agar aku bisa menjadi diriku sendiri. Rasanya seperti… dilindungi, dimengerti, dan yang paling penting : diterima.
Dari situ aku benar-benar belajar satu hal penting : perempuan suportif itu bukan yang selalu terlihat ramai, bersinar, atau vokal soal dukungan. Tapi yang diam-diam hadir, memberi rasa aman, dan tidak membuatmu merasa harus jadi versi terbaikmu setiap saat hanya untuk diterima.
FUN FACT, kedua kelompok ini berasal dari latar budaya yang cukup berbeda. Kelompok pertama tumbuh di lingkungan yang masih kental dengan budaya 'pengen tahu urusan orang'. Sedangkan kelompok kedua berasal dari budaya yang lebih menghargai privasi dan cenderung membiarkan seseorang menjadi dirinya sendiri. Ini membuatku sadar bahwa lingkungan sosial dan budaya sangat memengaruhi bagaimana cara kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita memaknai dukungan itu sendiri.
SUPPORT WOMAN
Sebagai perempuan, kita sudah cukup sering menghadapi berbagai tantangan di luar sana. Maka, satu hal yang bisa kita lakukan untuk saling meringankan beban adalah berhenti menjatuhkan satu sama lain. Dunia ini sudah cukup keras, kita tidak perlu ikut memperkerasnya dengan saling menghakimi atau menjadikan sesama perempuan sebagai kompetitor yang harus dikalahkan.
Mari menjadi perempuan yang saling mengangkat, bukan saling menginjak. Jika kamu melihat perempuan lain sedang berusaha bertumbuh, dukung. Kalau kamu memang tidak cocok dengan seseorang, menjaga jarak adalah pilihan yang jauh lebih dewasa daripada sibuk membicarakannya di belakang.
Karena pada akhirnya, nice women support nice women.
Perempuan yang kuat tahu bahwa kekuatan sejati bukan tentang menjadi lebih tinggi dari yang lain, tapi tentang mengulurkan tangan untuk membantu sesama naik bersama.
Menjadi perempuan di dunia yang penuh tekanan sosial dan standar ganda bukanlah perkara mudah. Kita dihadapkan pada ekspektasi, tuntutan, bahkan sesama perempuan yang sadar atau tidak, kadang lupa bahwa kita semua sedang melalui perjuangan masing-masing.
Tapi dari semua pengalaman yang aku lalui, aku belajar bahwa kita punya pilihan : mau jadi bagian dari rantai dukungan, atau justru dari lingkaran yang saling menjatuhkan. Kita semua punya kekurangan, justru dengan saling menerima dan mendukung, kita bisa tumbuh bersama jadi versi terbaik dari diri kita.
Karena perempuan yang kuat bukan yang berdiri paling tinggi, tapi yang mau menunduk untuk mengangkat sesamanya.
HAPPY INTERNATIONAL WOMAN'S DAY!!
Untuk semua perempuan yang sedang bertumbuh, sedang berani jadi diri sendiri, atau sedang mencoba keluar dari lingkungan yang tidak sehat, I see you, I support you, and I believe in you.
Komentar
Posting Komentar